JAKARTA, investor.id –PT Jasa Armada Indonesia Tbk (IPCM) atau JAI membuka peluang untuk menjajaki penggunaan kapal-kapal berbahan bakar ramah lingkungan alias kapal yang tidak bergantung pada bahan bakar fosil. Menurut Direktur Utama sekaligus Plt. Direktur Komersial dan Pengembangan Bisnis IPCM Shanti Puruhita, inisiatif tersebut sebagai bentuk pertanggungjawaban IPCM terhadap hal -hal yang berkaitan dengan keberlanjutan (sustainability).
Sebab, sebanyak 40% bahan bakar yang digunakan IPCM dalam proses produksi layanan jasanya bersumber dari bahan bakar fosil. “Jadi, ke depan kami menjajaki banyak terkait kemungkinan untuk penggunaan kapal-kapal berbahan baku yang tidak hanya bergantung pada bahan bakar fosil,” ucap Shanti dalam paparan publik, Kamis (29/8/2024).
Bahkan, Shanti mengklaim, inisiatif keberlanjutan tersebut sudah perseroan implementasikan di beberapa kapal IPCM. Dari total delapan unit kapal yang dibangun perseroan sejak IPO, tiga motor pandu sudah dipasang solar panel. Bukan hanya di kapal, anak usaha Grup Pelindo ini juga memasang solar panel di short connection dan harbour generator. Sekali lagi, kata Shanti, ikhtiar tersebut sebagai upaya IPCM untuk menekan pemakaian bahan bakar fosil dalam produksi.
Pada kesempatan yang sama, Direktur Operasi IPCM Muhammad Iqbal menambahkan, sampai saat ini perseroan telah mengelola sebanyak 94 unit kapal yang terdiri dari tiga jenis. Pertama, 59 kapal tunda, 30 motor pandu, dan lima kapal kepil.
Kapal tunda (tugboat) berfungsi untuk mendorong dan menarik sehingga proses pelayanan pemanduan berjalan efektif dan aman. Sedangkan, motor pandu berperan untuk antar-jemput pandu, melayani kapal yang keluar dan masuk pelabuhan. “Kami juga punya lima kapal kepil untuk menerima tali dari kapal dan ditambatkan ke dermaga,” jelas Iqbal.
Tahun ini, emiten bersandi IPCM itu akan membanguan kembali dua unit kapal tunda baru. Penambahan kapal ini akan menggunakan dana dari belanja modal (capital expenditure/capex) yang perseroan alokasikan pada tahun ini sebesar Rp 158 miliar.
Selain membangun kapal baru, capex IPCM pada 2024 ini juga akan dibelanjakan untuk kebutuhan repowering mesin bantu dan beberapa alat bantu di kapal. Shanti melanjutkan, capex juga akan diarahkan untuk membiayai modifikasi sistem water jet IPCM.
“Kami berharap, investasi Rp 158 miliar ini dapat kami laksanakan secara baik bukan hanya untuk yang selesai pada tahun ini, tetapi juga multiyears,” tutur dia.
Sepanjang semester I-2024, IPCM mencetak laba tahun berjalan sebesar Rp 78,27 miliar, turun dibanding periode sama tahun sebelumnya Rp 83,93 miliar. Namun, IPCM mampu mencatatkan kenaikan dari sisi pendapatan menjadi Rp 598 miliar ketimbang sebelumnya Rp 567 miliar.
Merujuk pada laporan keuangan unaudited IPCM yang sudah dipublikasi, penurunan laba IPCM tidak lepas dari membengkaknya sejumlah beban. Salah satunya, beban pokok pendapatan yang meningkat dari Rp 425 miliar menjadi Rp 461 miliar, sehingga hal ini membuat laba kotor IPCM terkoreksi menjadi Rp 137 miliar dari sebelumnya Rp 142 miliar.
Leave a comment