MANAJEMEN RESIKO

  • Penerapan manajemen risiko di IPCM adalah bagian dari penerapan Good Corporate Governance (GCG). Fokus utama penerapan manajemen risiko adalah para pelaku utama proses bisnis dan organisasi di setiap tingkatan. Penerapan manajemen risiko harus menciptakan nilai tambah, terintegrasi dengan proses bisnis, bagian dari proses pengambilan keputusan, transparan, sistematis, terstruktur, dinamis dan tanggap terhadap perubahan.

    Dalam penerapan sistem manajemen risiko perusahaan meng- acu kepada ISO 31000: 2018 yang bersandar pada tiga elemen penting pada penerapan manajemen risiko.

    • Kebijakan atau komitmen yang dipegang oleh BOD Perusahaan

    Kebijakan tersebut mutlak harus disosialisasikan sehingga dipahami oleh seluruh level personal perusahaan.

    • Perencanaan sistem manajemen risiko yang merambah pada bidang anggaran, struktur organisasi, kinerja hingga sumber daya

    Agar sistem manajemen risiko perusaan dapat berjalan dengan baik sesuai dengan kondisi dan aktual perusahaan.

    • Penerapan sistem manajemen risiko yang mengadaptasi siklus plan, do, check,

    Agar sistem dapat diterapkan dan mendapatkan manfaat, penerapan sistem manajemen risiko menggunakan Siklus PDCA meliputi penerapan, monitoring, lalu pelaksanaan evaluasi melalui tinjauan manajemen dan perbaikan,” pungkas konsultan manajemen risiko itu.

    Pada tanggal 17 Oktober 2018 BOD dan BOC perusahaan telah menandatangani bersama Komitmen dan Road Map Penerapan

    Manajemen Risiko Tahun 2018 sampai tahun 2023. Perusahaan telah menerapkan Manajemen Risiko dalam menyusun Rencana Kerja Manajemen ditahun 2020. Pengelolaan risiko tersebut melandaskan ketepatan pada:

    1. Ketepatan Program Kerja (Rencana Kerja Manajemen) Dengan melakukan identifikasi risiko dalam departemen, ‘maka akan muncul program mitigasi yang tepat dan efesien di setiap risiko RKM Departemen sehingga RKM yang telah ditetapkan dapat tercapai akan selaras dalam mencapai Visi Perusahaan
    2. Ketepatan Investasi

    Dengan melakukan pengelolaan risiko Investasi,maka akan dapat terserap seluruh alokasi anggaran, dan tidak muncul tambahan biaya dalam Investasi yang telah direncanakan

    1. Ketepatan Biaya

    Setelah diketahui Program kerja dan rencana Investasi pada tahun yang akan datang, maka perusahaan dapat menetapkan anggaran biaya sehingga penggunaan biaya yang efisien dalam mencapai visi perusahaan.

    Struktur Manajemen Risiko

    Struktur pengelola risiko Perusahaan berdasarkan SK Direksi Nomor: HK-56/8/11/1/MS-19 tentang SK Pedoman & Kerangka Kerja Manajemen Risiko PT Jasa Armada Indonesia Tbk tanggal 8 November Tahun 2019.

    Kegiatan-Kegiatan Penerapan Manajemen Risiko di tahun 2020:

    1. Launching Sistem IT Manajemen Risiko (manrisk IPCM) diseluruh departemen sebagai pemilik risiko;
    2. Melakukan monitoring dan evaluasi risiko oleh setiap departemen secara periodik per 3 (tiga) bulan ,sehingga risiko dapat dimitigasi dengan baik;
    3. Pelatihan kepada Direksi dan Pekerja untuk meningkatkan sertifikasi Manajemen Risiko;
    4. Pengaktifan Business Continuity Management (BCM) untuk manajemen keberlangsungan usaha dalam keadaan pandemi Covid-19 di lingkungan PT Jasa Armada Indonesia

    Risiko Perusahaan dan Upaya Mitigasi Risiko

    Pada tanggal 2 Maret 2020 Presiden Republik Indonesia mengumumkan adanya pasien pertama yang terpapar COVID-19, virus jenis baru berasal dari Wuhan China yang ahirnya berkembang menjadi pandemi diseluruh dunia.

    PT Jasa Armada Indonesia Tbk memastikan bahwa operasi pelabuhan dapat tetap terus beroperasi untuk menjaga distribusi logistik dan kelancaran arus barang, melakukan mitigasi dan pencegahan Covid-19 dengan mengaktifkan Team Business Continuity Manajemen Perusahaan.

    PERAN DAN TANGGUNG JAWAB DALAM PEDOMAN KELANGSUNGAN USAHA (BCM) VIRUS CORONA

    1. Secara aktif memantau informasi dari sumber kementrian Kesehatan Republik Indonesia perkembangan wabah virus dan bekerja dengan manajemen untuk menyebarluaskan pesan kepada pekerja dengan instruksi yang jelas ketika tindakan perlu dilakukan diaktifkan
    2. Mendidik pekerja tentang informasi tepat dan terkini tentang virus. Beri penjelasan singkat pada mereka agar pekerja dapat mengetahui langkah-langkah pengendalian infeksi dan prosedur pencegahan yang telah ditetapkan di tempat
    3. Menyusun informasi kontak terbaru dari semua pekerja, yaitu alamat rumah tempat tinggal, nomor telepon pekerja dan keluarga yang tidak satu rumah dengan pekerja. Pastikan semua pekerja memiliki kontak nomor Pimpinan Kelangsungan Usaha ( BCM )/ Personil departemen yang ikut dalam BCM
      • Pekerja harus menghubungi Business Continuity Manager jika mereka merasa sakit dengan tanda tanda infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) yang dicurigai untuk tujuan pelacakan
    1. Pastikan bahwa perusahaan telah menunjuk setidaknya satu Point of Contact (POC) yang ditunjuk (mungkin Business Continuity Manager), yang akan bertanggung jawab untuk berhubungan dengan Pihak ekternal perusahaan seperti Rumah Sakit, Pemerintah Daerah, maupun Pemerintah Pusat dan Kementerian Terkait penanganan Virus Corona selama proses
    2. Melakukan Identifikasi dan bekerjasama dengan pihak rumah sakit/klinik yang dapat dibawa oleh pekerja yang menderita demam, batuk dan gangguan sistem pernafasan

    Penggunaan Sarana Teknologi Informatika dalam Mendukung Bekerja dari Rumah

    1. Sistem Oracle, AMOS dan Sistem IT Perusahaan lainnya telah dapat diakses dari rumah, sehingga untuk pekerja administrasi yang berhubungan dengan sistem tersebut dapat mengakses dari rumah dengan biaya data ditanggung oleh
    2. Penggunaan sistem surat menyurat dengan IPC Virtual Office, Penggunaan Email Corporate ( Microsoft 365).
    3. Penggunaan aplikasi teleconference seperti Microsoft Team, Zoom, Whatsapp video untuk diskusi di internal Departemen dan melakukan telekonference.

    Risk 1 : Kesehatan & Keselamatan Pekerja

    Risk 2 : Terhentinya Operasional Perusahan karena Supply Chain

    Risk 3 : Rencana Pengembangan Bisnis & Pendapatan yang Tidak Tecapai

    Risk 4 : Adanya perubahan kebijakan dan regulasi untuk me- nanggulangi Pandemi COVID-19

    Risk 5 : Kesiapan sarana dan SDM dalam melaksanakan Work From Home.

    Upaya Mengelola Risiko Perusahaan

    Kebijakan untuk mengelola risiko perseroan ada diseluruh unit kerja, atau disebut dengan Risk Owner yang mempunyai dan bertanggung jawab atas pengelolaan risiko serta pihak-pihak dan individu yang bekerja untuk dan/atau atas nama Perseroan baik secara langsung maupun tidak langsung yang berpengaruh terhadap pencapaian tujuan dan sasaran Perseroan.

    Peningkatan Program Budaya Sadar Risiko

    • Membentuk suatu lingkungan kerja yang meliputi budaya, komunikasi, pengukuran kinerja berbasis risiko dan sebagainya untuk mendukung implementasi Manajemen Risiko secara keseluruhan. Menciptakan budaya peduli risiko di seluruh lingkungan Perusahaan dengan penekanan bahwa risiko Perusahaan adalah tanggung jawab seluruh pekerja Perusahaan
    • Melaksanakan Pelatihan Manajemen Risko dan sosialisasi dalam seluruh aspek lini

    Penetapan strategi Manajemen Risiko juga harus mempertimbangkan kompleksitas kondisi, organisasi dan risiko yang timbul sebagai akibat perubahan faktor Eksternal dan faktor Internal.