Ruang lingkup area kerja PT Jasa Armada Indonesia Tbk. di Pelabuhan Teluk Bayur mencakup pelayanan untuk Teluk Kabung dan Teluk Sirih. Di Teluk Kabung, armada JAI malayani kapal-kapal Pertamina, sedangkan di Teluk Sirih melayani kapal-kapal batubara yang akan digunakan sebagai pembangkit tenaga listrik atau PLTA. Pelabuhan Teluk Bayur sendiri ada dermaga khusus curah (DKC) untuk kapal-kapal yang membawa CPO (sawit), dermaga kapal pembawa semen curah, dan juga dermaga umum.
Saat ini PT Jasa Armada Indonesia Tbk. di Pelabuhan Teluk Bayur memiliki 4 unit armada kapal tunda (KT Selat Siberut, KT Bima X, KT Teluk Bayur I dan KT Teluk Bayur II), 2 unit kapal pandu (MPF 01 dan MPA 03) dan 2 kapal kepil (MK 007 dan MK 01.10). Beberapa unit kapal tunda dapat memenuhi untuk kebutuhan operasional pelayanan penundaan.
Senior Officer Armada II JAI, Yandrizal mengatakan saat ini telah mengoptimalkan kesiapan kapal (availability) di atas KPI yang telah ditetapkan oleh perusahaan yaitu di atas 80% kesiapan kapal. “Sementara ini kami mengoptimalkan kapal untuk selalu siap operasi agar dapat menunjang kelancaran operasional di Teluk Bayur,” ucapnya.
Yandrizal memaparkan, untuk pelayanan di pelabuhan Teluk Bayur harus mengikuti aturan dari PM 57 yang menyatakan bahwa pelayanan kapal dengan panjang tertentu, harus dilayani dengan beberapa kapal. Misalkan kalau panjang 70 meter itu dengan satu tug boat, 100 meter dengan 2 tug boat, 150 meter dengan 3 tug boat. “Kalau sudah 200 meter itu harus dengan 4 tug boat,” imbuhnya.
Yandrizal menambahkan, di pelabuhan Teluk Bayur tidak bicara dengan utilisasi, tapi availabilitynya atau kesiapan. “Kalau utilisasinya terbilang kurang, ya kurang. Kenapa? Karena di sini ada yang namanya DKC di mana alurnya sedikit ekstrem untuk kita layani. Nah, di situ masih ada obstacle-obstacle yang semestinya tidak ada. Tapi kita harus melayani seoptimal mungkin,” ulasnya.

Saat ini menurut Yandrizal pelayanan untuk kapal kadang mengalami overload. “Untuk pelayanan pasti ada mengalami overload. Tapi seperti yang saya garis bawahi tadi, bagaimana availability atau kesiapan kapal saja. Dan terkait ini sebenarnya ranah kepanduan. Apakah kapal harus ditambah dengan horse power sekian, kapal harus diperuntukan untuk apa saja, itu ranahnya mereka. Ranah kami hanya menyiapkan armada,” terangnya.
Guna menjaga peforma kapal tetap baik, Yandrizal selalu melakukan maintenance secara berkala. “Kalau untuk maintenance, kami ada beberapa tahap. Ada daily ada monthly, itu sudah diatur dalam maintenance system. Semua sesuai dengan ketentuan yang ada di logbook kita. Nah kalau memang ada jadwal kita maintenance, kita minta waktu untuk perawatan. Di sini tidak sepadat pelabuhan Tanjung Priok. Karena kalau tidak salah pelabuhan Tanjung Priok itu 1 tug boat bisa melayani sampai 80 kapal, di sini cuma 10 kapal. Masih banyak waktu untuk melaksanakan maintenance. Jika akan melakukan maintenance besar, kami minta waktu beberapa jam, sudah spare waktu sekian jam. Dan hal ini kami beritahukan sejak awal ke pemakai jasa. Jadi maintenance itu tetap kita lakukan,” tuturnya.
Perihal untuk penambahan armada, Yandrizal menyerahkan kepada kebijakan dari user atau kepanduan, karena yang memegang utilisasinya adalah mereka. “Harapan saya itu adalah terpenuhinya part yang kita butuhkan, kuncinya di situ saja sebenarnya. Pelabuhan Teluk Bayur ini paling jauh lokasinya, jadi kalau untuk part di sini minus sekali kalau dibandingkan dengan pelabuhan Panjang Lampung, di sana untuk part mereka cepat,” ucapnya.
Sementara itu Plh. Deputy General Manager Area IV M. Ary Syaban menjelaskan untuk penambahan armada saat ini belum ada, tetapi berharap adanya peremajaan armada yang sudah tua di Pelabuhan Teluk Bayur. “Dengan adanya beberapa armada yang sudah cukup berumur, maka kami melakukan planned maintenance system (PMS), yaitu sistem perawatan kapal yang dilakukan secara terus menerus atau berkesinambungan terhadap peralatan dan perlengkapan agar kapal selalu dalam keadaan laik laut dan siap operasi,” paparnya.
Terkait perawatan kapal, Syaban menambahkan, untuk kapal-kapal tahun pembuatan 2000 ke atas cenderung tidak mahal dalam biaya perbaikan atau docking. Tetapi yang memerlukan biaya cukup tinggi terhadap perawatan, perbaikan atau docking adalah kapal-kapal yang sudah tua seperti KT Selat Siberut dikarenakan sparepart yang sudah langka. Ich/IPCM.
Leave a comment