Belakangan ini kita banyak mendengar informasi atau membaca berita yang membahas resesi perekonomian global dan dampaknya bagi perekonomian Indonesia juga kemungkinan resesi ekonomi di Indonesia. Lalu bagaimana kita menyikapinya dalam posisi sebagai pribadi dan juga sebagai seorang karyawan?
Yang mendasar untuk dipahami dulu, apa pengertian resesi ekonomi itu. Resesi ekonomi umumnya berlangsung selama beberapa kuartal atau selama setahun dan berdampak pada suatu negara. Bila resesi melanda, tanda yang gampang dikenali biasanya melalui berbagai data, roda perekonomian akan melambat dan berdampak pada sektor finansial seperti bisnis yang lesu dan meningkatnya angka pengangguran.
Pada pertengahan Juli 2022 lalu, pemerintah telah menyampaikan ancaman dan situasi dunia yang sulit karena ketidakpastian global, Bank Dunia dan IMF memperkirakan perekonomian di 60 negara berpotensi mengalami kejatuhan ekonomi. Seiring dengan itu, pada akhir Juli 2022, Menteri Keuangan Sri Mulyani menyatakan bahwa resesi di Amerika Serikat (AS) pasti akan mempengaruhi Indonesia mengingat AS merupakan negara tujuan ekspor. Pelemahan perekonomian di AS akan menyebabkan permintaan terhadap ekspor turun dan harga komoditas juga turun. Bila kenaikan suku bunga dan likuiditas cukup kencang, maka pelemahan ekonomi global pasti terjadi.
Tentu kita tak bisa berdiam diri. Istilah yang sedang populer saat ini, “Kita harus gercep (gerak cepat).” lakukan antisipasi agar tidak hanyut dalam pusaran resesi. Mental seperti inilah yang harus dimiliki semua insan Jasa Armada Indonesia (JAI).
Rasanya kita patut bersyukur lebih dulu. Kita telah merasakan bersama pada masa pandemi, dengan komitmen dan kerja keras kita bersama, JAI telah menjelma menjadi perusahaan yang tangguh, menunjukkan tren kinerja yang positif, memiliki citra baik di industri ini dengan banyaknya pemberitaan di media massa. Kondisi ini jangan membuat kita terlena. Kita dituntut untuk tetap cermat dan cerdas dalam mengelola keuangan pribadi agar siap menghadapi kondisi perekonomian yang saat ini tengah bergejolak. Apa saja langkahnya? Berikut ini panduan yang bisa kita pertimbangkan :
Berhemat dan Disiplin Terapkan Anggaran.
Ini nasihat klasik ya, tapi begitulah yang harus dilakukan. Berhemat adalah langkah yang sangat mendasar, tapi jangan pula sampai kebutuhan pokok tidak terpenuhi sehingga akan menimbulkan masalah lain. Sebagai contoh, jangan sampai karena ingin menghemat, kebutuhan terkait kesehatan dan keselamatan diabaikan. Lalu anggaran yang kita miliki dipilah-pilah bisa ditentukan berdasarkan prioritas. Harus ada pemisahan antara needs (kebutuhan) dan wants (keiinginan). Jangan lupa juga mempertimbangkan kemungkinan skenario terburuk dan skenario terbaik. Pertimbangkan kemungkinan seperti naiknya harga sewa rumah/kos, biaya transportasi atau pemeliharaan kendaraan yang akan berdampak langsung terhadap pengeluaran rutin.
Kurangi Utang dan Jaga Likuiditas
Singkirkan dulu gaya hidup konsumtif, apalagi bila dananya dari dana utang. Bila kondisi saat ini sedang memiliki utang, prioritaskan untuk membayarnya, utamakan untuk yang bunganya besar. Jaga agar arus kas tetap baik, likuiditas terjaga sehingga tidak perlu melakukan utang baru. Jaga proporsi utang terhadap pengeluaran agar tetap konservatif selama masa resesi, misalnya maksimum 20%-30%. Berhati-hatilah dalam menggunakan kartu kredit mengingat tingkat bunganya yang tinggi.
Sisihkan Dana Darurat dan Siapkan Asuransi
Kejadian tak enak dan tak terduga kadang menghampiri kita. Di sini pentingnya kita menyiapkan dana untuk kebutuhan darurat dengan perkiraan pengeluaran tiga sampai enam bulan atau sesuai kebutuhan. Selain BPJS Kesehatan, perlu dipikirkan juga kombinasi perlindungan dengan asuransi kesehatan dan asuransi jiwa, serta asuransi kerugian lainnya seperti asuransi kendaraan bermotor dan asuransi kebakaran.
Lakukan Investasi
Pendapatan bulanan sepertinya mengalir habis begitu untuk kebutuhan, benarkah demikian? Tentu harus ada tekad yang kuat agar bisa memiliki uang lebih untuk ditabung atau diinvestasikan. Salah satunya abaikan gengsi, dan masih banyak cara lainnya untuk bisa menghemat sehingga aliran penerimaan kas meningkat dan kantong uang jadi sehat. Bila ini sudah tercapai, tinggal bagaimana memilih jangka waktu investasi dan pisahkan investasi yang cepat cair. Investasi jangka pendek memberikan pengembalian dalam waktu sekitar tiga sampai 12 bulan dengan tingkat pengembalian lebih rendah, sedangkan investasi jangka panjang bisa sampai bertahun-tahun, namun secara umum memberikan pengembalian yang lebih tinggi.
Ada berbagai instrumen investasi dengan jangka waktu, tingkat risiko dan pengembalian yang berbeda yang dapat menjadi pertimbangan, seperti deposito, logam mulia atau emas, obligasi, reksa dana, saham, properti, atau instrumen investasi yang relatif lebih baru peer to peer lending yang banyak dilakukan oleh perusahaan fintech, atau aset kripto yang perlu dipelajari dengan lebih seksama mengingat tingkat risikonya lebih tinggi.
Ini yang perlu diingat, jangan lakukan investasi dalam kondisi panik atau ketakutan. Tentukan tujuan investasi, pelajari jenis investasi yang tersedia, profil risiko dan kondisi keuangan karena tidak semua instrumen investasi cocok untuk semua investor.
Seperti pepatah, sedia payung sebelum hujan. Nah, biar kita tidak panik, khawatir, atau cemas dengan kondisi resesi ekonomi yang mungkin saja terjadi, setidaknya sudah ada upaya yang bisa kita lakukan. Apa yang kita lakukan ini, juga turut mempengaruhi kinerja kita di perusahaan. Bekerja menjadi lebih fokus dan tenang. Tentu kita berharap resesi ekonomi tidak terjadi, namun bila kondisi global tak bisa dihindari, kita masih mampu bertahan sehingga dapat tetap fokus dengan mempertahankan kinerja yang baik selama ini. Semangat dan tetap optimis dengan perencanaan keuangan yang cerdas dan cermat. (IPCM).
Leave a comment